Friday, June 8, 2018

Her: A Portrayal of Connection, Attraction, and Human Condition in the Modern World

“Her” adalah satu dari sedikit film yang memiliki tempat spesial di hati saya – sebuah karya seni bergenre science-fiction dan romance yang sangat lembut dan jujur dalam penuturannya. Menurut saya, “Her” adalah film yang mendekati sempurna dalam segala aspeknya. Dari segi teknis, “Her” menggarap lighting, grading, dan desain produksi secara efisien dengan memberikan atmosfer hangat dan familiar. Hal ini didukung juga oleh arahan dari Spike Jonze, sinematografi yang indah, penulisan naskah dan dialog yang pintar namun tetap terasa nyata, akting yang luar biasa dari Joaquin Phoenix, serta musik dan scoring yang membangun suasana emosi tanpa memanipulasi penonton. Hasilnya adalah sebuah story-telling yang brilian dan pengalaman sinematik yang tak terlupakan. Pada dasarnya, “Her” adalah sebuah kisah cinta antara manusia dan Artificial Intelligence (AI) dengan setting futuristik. Namun tidak seperti film bergenre sci-fi lainnya yang menggunakan fokus utama teknologi dan CGI sebagai world-building (sehingga film terkesan dingin dan asing), “Her” menawarkan masa depan dan teknologi hanya sebagai latar yang masuk akal dan familiar. “Her” berfokus pada ideas sebagai material utamanya – bermain dengan ide-ide eksistensial dan filosofis yang mungkin muncul di titik-titik tertentu dalam kehidupan manusia. “Her” mengajukan banyak sekali pertanyaan mengenai tempat manusia di alam semesta, arah pergerakan masyarakat kita, arti menjadi seorang manusia, arti mencintai seseorang, dan makna yang diberikan cinta bagi kehidupan manusia. Film ini juga mengimplikasikan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti: Apa yang membuat kehidupan manusia nyata? Manusia berpikir, merasakan sesuatu, dan berperilaku berdasarkan sirkuit otak tertentu, sama halnya dengan AI yang berperilaku sesuai pemrogramannya. Jadi apakah emosi kita nyata, atau hanya hasil dari pemrograman seperti halnya AI? Apa yang membuat sebuah hubungan nyata? Apa sebenarnya arti mencintai seseorang dan apa yang diberikan cinta bagi kehidupan? Apakah kapasitas untuk mencintai cukup untuk membuat seseorang hidup? Apakah bentuk cinta AI, dalam film ini Samantha, superfisial dan terprogram, atau merupakan kapasitas cinta tertinggi yang transendental dan belum bisa dicapai manusia? Film ini menantang kita untuk melihat diri dan dunia dengan cara yang berbeda.
Isu eksistensial yang tidak dapat dipisahkan dari pikiran manusia dalam berbagai zaman adalah pertanyaan mengenai tujuan dan makna kehidupan manusia. Dalam “Her”, hal ini merupakan sebuah pertanyaan utama bagi protagonis kita, Theodore. Sejak awal, Theodore ditunjukkan sebagai seseorang yang melankolis, pasif, dan terisolasi dari interaksi manusia. Theodore tidak sepenuhnya hidup dalam dunia dan memilih untuk memenuhi kebutuhan sosialnya melalui ruang virtual. Tanpa adanya hubungan yang dianggap berarti, Theodore mulai mempertanyakan eksistensinya karena ia menyadari bahwa tujuan dan makna hidup manusia adalah untuk mencintai. Pergulatan internal Theodore bisa disimpulkan dari teknik filming yang memotret Theodore sebagai satu-satunya objek dalam frame, penggunaan blur yang memisahkan Theodore dari lingkungannya, dan saliensi penampilan Theodore dari orang-orang di sekitarnya. Ketidakbermaknaan hidup yang dirasakannya ini disebabkan oleh hubungannya yang retak dengan istrinya. Selama film berjalan, terdapat banyak flashback yang menggambarkan pikiran Theodore yang terjebak dalam hubungan yang telah usai dengan orang yang dicintainya. Satu-satunya hal yang memberikan makna bagi hidupnya adalah hubungan tersebut, yang walaupun telah hancur tetap ia pertahankan untuk terus hidup (dengan menunda menandatangani berkas perceraian).  Hal tersebut berubah ketika ia bertemu dengan Samantha, Operating System (OS) yang dirancang untuk menjadi asisten pribadi yang sesuai dengan kepribadian dan preferensi Theodore. Theodore jatuh cinta pada Samantha, dan terbentuklah sebuah hubungan yang berarti bagi keduanya. Theodore mulai hidup sepenuhnya dan merasakan lagi kebahagiaan. Theodore puas akan hubungannya yang dalam dan nyata dengan Samantha. Segala keterbatasan fisik mereka atasi dengan mengembangkan strategi agar dapat merasa bersatu walaupun berbeda dimensi. Titik ini merupakan momen yang nyaman bagi Theodore, karena dengan adanya hubungan, ia dapat memvalidasi kembali eksistensi dirinya. Setelah beberapa lama, Theodore mulai mempertanyakan kodrat dari hubungan mereka. Samantha dan Theodore merasakan adanya konflik internal yang berakar dari tidak adanya koneksi fisik yang nyata. Theodore masih mendapati dirinya berkelut dengan cintanya di masa lalu (ditunjukkan melalui flashback) yang menandakan keinginan Theodore akan hubungan manusia. Samantha berusaha memecahkan konflik ini dengan mewujudkan dirinya di dunia fisik melalui raga orang lain, tetapi hal ini tidak berhasil karena Theodore semakin merasakan kepalsuan dari hubungan mereka. Hubungan Samantha dan Theodore berakhir ketika Samantha, sebagai AI yang memiliki kapasitas jauh lebih besar daripada manusia, berevolusi dengan cepat dan mengembangkan konsep cinta yang sangat jauh berbeda dari manusia. Theodore mengalami kesulitan dalam menerima hal ini dan jarak yang ada antara Theodore dan Samantha semakin besar. Di sini, pertanyaan mengenai ketulusan cinta Samantha terhadap Theodore diimplikasikan kepada penonton, namun pada akhirnya, hal tersebut tidaklah penting. Hal yang terpenting adalah Theodore membuktikan kapasitasnya untuk mencintai seseorang yang baru dan merasakan beragam emosi yang tidak ia prediksi sebelumnya. Theodore juga mendapatkan insight untuk mengevaluasi kembali hubungannya dengan dirinya, Samantha, dan Catherine. Insight ini diperoleh dengan bantuan Amy yang dengan bijak mengatakan:
            “I can overthink everything and find a million ways to doubt myself… And I’ve just come to realize that we’re only here briefly. And while I’m here, I want to allow myself… joy.”
            Dalam “Her”, masa depan digambarkan dengan teknologi sebagai alat yang menguntungkan dan menghubungkan manusia, tetapi juga memecah dan mengisolasi individu dari dunianya (selama film berlangsung, diperlihatkan keadaan manusia yang semakin individualistis dan membangun hubungan erat dengan teknologi). Meski begitu, manusia masih memiliki keinginan akan hubungan yang dalam dan tulus dengan orang lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa interaksi dan membuka diri adalah proses yang menantang dan sulit bagi semua orang. Perkembangan teknologi membuat kita bertahan dalam zona nyaman dan memisahkan diri, memilih untuk melibatkan diri dan berinteraksi dalam ruang metafisik. Hal ini tentu saja futile karena manusia bukanlah makhluk metafisik, kita tidak dapat menembus dimensi-dimensi linear seperti waktu dan tempat, dan kita tidak dapat melarikan diri dari kematian. Adanya realisasi terhadap hal ini menyebabkan manusia, meskipun berkecenderungan untuk bertahan dalam zona nyaman, tidak dapat berhenti mencari tujuan hidup dan memiliki keinginan untuk benar-benar hidup. Seperti kebanyakan dari kita, Theodore sangat terserap dalam ide hubungan romantis sebagai satu-satunya jawaban untuk mendapatkan tujuan dan makna hidup hingga ia melupakan aspek lain dalam hidupnya. Pada akhirnya, Theodore berhasil menemukan tujuan hidup dalam dirinya bahkan ketika tidak ada yang mencintainya, karena ia mulai menghargai nilai-nilai hubungan non-romantis dan menemukan dirinya. Ia belajar untuk melepaskan masa lalu, tidak lagi terikat dengan mencintai Catherine atau Samantha sebagai satu-satunya jalan mendapatkan tujuan hidup. Makna hidupnya kembali ketika ia mendapatkan dan mewujudkan aspirasi sebagai penulis dan menghargai betapa indah hubungan pertemanannya dengan orang-orang dalam hidupnya, terutama Amy.
             Pada akhirnya, kesalahan terbesar Theodore bukanlah membiarkan dirinya jatuh cinta kepada makhluk artifisial, bukan juga menyerah pada rintangan cintanya dengan Catherine. Kesalahan terbesar Theodore adalah kegagalannya dalam menyadari bahwa kesepian adalah pengalaman bersama manusia. Theodore terjebak dalam romantisasi masa lalu hingga melupakan bahwa kesepian adalah bagian dari kehidupan. Character arc Theodore didapat ketika pada akhir film ia sadar bahwa mencintai memang sebuah proses yang sulit, tetapi cinta harus diperjuangkan ketika kita merasakannya. Namun hal ini juga tidak bisa dilepaskan dari realisasi lain yang sama pentingnya: bahwa kita tidak bisa menjadikan sesuatu yang sangat rapuh seperti cinta sebagai satu-satunya penentu harga diri dan makna kehidupan.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

This is written for an assignment in my social psychology class, but I did put a lot of work and thought into this because Her is a meaningful film for me, and I wanted to do this film justice by writing a serious review. Initially, this review was twice as long as it is now, but I had to cut out a lot of parts to not exceed the maximum limit of page allowed (this is still twice as long as it should be but I managed to cram it into two pages of size 11, single-spaced, narrowest margin possible format). For this post, I cut out mandatory explanations of social psychology theories, so this is my pure take on the film itself.