I can not say I liked this movie when I was a child either, I only watched half of it because to me it was the weirdest disney ever (what disney movie sang about war for very long minutes instead of about boys or wicked woman?) and it just bored me right away. But now I can relate to her so much while watching it. I love especially the moments when she was singing around the river bend, colors of the wind, the song "savages", the moment when she stood up and made the best speech ever, and the good bye part which is very saadd. If you're looking for a perfect princess in a beautiful dress with lots of magics and a feel-good ending, you won't find it here. Instead, you will find a different princess with dreams and courage who wanted to change the world. You will see love (not the spoiled-teenage-girls-kind-of-love) and self-sacrifice. You will see the problem of this world, from race, war, stereotyping, ignorancy, miscommunication, narrow-minds, desire of power, and man's blindness to others' despair packed in a light and simple way. But most of all, you will learn to find your heart, speak with your inner self, and listen to the sound around you. So yeah, I think pocahontas is one of Disney's maturest movie ever.
Tuesday, June 30, 2015
Pocahontas Is So Underrated!
I think Pocahontas is the best disney original ever. I was so mad when I found out it has the lowest rating among other disney movies. It's mature and realistic (has a rational ending), the message was one of the most powerful, the music's good, and didn't overdo or lose its humor. So what if the movie is "historically inaccurate"? It's a disney movie for god's sake, what do you expect? A movie for kids, rated U, the reality was rather gruesome and inappropriate, don't these at least ring a bell? And what movie is ever "accurate" to its real event?
Thursday, June 25, 2015
Leap Year
Tidak terasa tahun ajaran sudah berganti, sudah waktunya
memasuki bulan suci Ramadhan lagi. Masih ingat Ramadhan tahun lalu? Pertama
kalinya menginjakkan kaki sebagai Smalane (technically, but not official yet),
mengenal sekolah ini untuk pertama kalinya. Rasanya belum lama, tapi juga sudah
lama. Kelas 10 terasa cepat sekali berlalu, tetapi aku juga merasa sudah
menjadi bagian dari Smala dalam waktu yang lama, sampai kurasa tempat ini
merupakan rumah keduaku. Tempatku tumbuh di samping tempat belajar.
I’ll admit one thing. This year is one of the most important
years in my life. Tahun di mana aku membuka mata, belajar, berubah. I feel like
this is my turning point in life. I made crazy decisions, walked through some
kind of storms, saw things through many eyes and perspectives. This year was
really challenging and hard at times, but I’m happy to say that I feel like
finally have found myself. I grew better as I grew bigger. Wiser I suppose, even tho still not wise
enough.
This year I’ve made friends and new families. Met some boys,
got out of weird relationships. Look around and increase my social awareness.
Be passionate with new experiences, be passionate about people. Make peace with
myself.
Sebuah mantra – hasil tidak akan mengkhianati usaha –
merupakan kalimat yang bergema di dinding sekolah setiap harinya. Memang usaha
merupakan faktor besar dari hasil yang akan didapat nantinya, but I’ve learned
that there are more of it than what the words say.
Hasil tidak akan mengkhianati niat.
Hasil merupakan cerminan dari kehendak Allah that will turn
out for the best.
I’ve had heartbreaks and tears because there are times I
felt like I have given my all, I have sacrificed things and prepared much, but
still it’s not enough.
Ternyata kembali lagi, setelah dikomunikasikan ke hati,
niatlah yang belum sepenuhnya lurus. Masih ada ego berbicara. Padahal there are no rooms for that
here.
Sakit se rasanya, capek. Tapi ya itu tadi. Belajar untuk
ikhlas. Let go. Percaya bahwa yang terpilih itu memang orang-orang yang terbaik
untuk ke depannya. Amanah tidak akan salah memilih tuannya kan? Memang Allah
yang paling mengerti, dan dengan ridha-Nya dipindahkanlah diri ini ke tempat
yang lebih pantas. Same things happen in life. You get rejected, you get
dumped, you don’t always get what you want. It hurts but it will turn out for
the best.
Hari ini baru saja mendapat sebuah amanah berupa selembar
kain yang merupakan buah perjuangan, bukti perjalanan berharga yang kulalui
tidak lama lalu. Berat sekali rasanya melangkah dan menggerakkan tangan untuk
mengambilnya. Tahu rasanya? Mengevaluasi diri dalam hati dan pikiran terus berkata
“Sudah pantas ta? Kamu lo masih kaya gini.” Dan dalam sekejap semua negativity
yang ada dalam diriku mengalir dari ingatan. Pikiran terasa hiruk pikuk dengan
suara bersahutan mulai dari “Belum pantes kamu jadi mbak mas”, “Di sana ae
gadipercayai ya di sini harusnya juga belum”, sampai “Tapi aku sudah menjalani
prosesnya bersama-sama angkatan, ya harusnya berhak”. Lalu ada seorang teman
yang berbicara kepada angkatan bahwa kita di sini nggak berjuang sendirian, semua
saling membantu supaya bisa menjalankan amanah ini bersama-sama. Jangan lihat
siap atau tidaknya hanya dari sisi individu, karena masing-masing dari kita mempunyai
kekurangan. Thanks to that, lumayan bisa mengusir pikiran-pikiran di kepala dan
positive thoughts mulai bermunculan. I got up the courage, berdiri dan mengambil
itu disaksikan mereka yang merupakan komponen penting dari perjalanan ini. Selama ini the thought of getting it was
always exciting, but it kinda feels unpleasant at some way, not sure whether or
not you are worthy of it.
Alhamdulillah banyak sekali pelajaran yang bisa kuambil
tahun ini. Banyak memori tercetak, banyak pengalaman terukir. Semakin banyak
kertas-kertas kecil, foto jepretan photobox, dan simbol perjalananku dari
awaal sekali tersimpan dalam “memory box”.
Jadi, buat kalian yang belum paham, sering bertanya
”Kenapa? Buat apa?”
Here’s why.
Simply for all those amazing stories to tell when I’m old
and gray, memperluas pandangan, mempersiapkan diri untuk kehidupan, sebagai bentuk kontribusi untuk almamater
tercinta. But more importantly, for all the amazing friends (family) I’ve made
along the way.
So yeah. I’d say there’s no such thing as too late (or too
early) to change, to take risks, to do things that you want to do, to be who
you want to be. No matter how it will turn out, grab it and I promise you, it will worth the struggle.
Monday, June 15, 2015
+1
Registrasi
Nggak tahu apa-apa tentang program ini. Pure coba-coba.
Daftar dengan tekad “Gausah ngoyo. Kalau yang terbaik berangkat, pasti
diberangkatkan." “Undian 50ribuan, iseng-iseng berhadiah”- Papa.
Tahap 1
Nggak belajar blas buat tesnya. Bener-bener lepas tangan.
Ada sekitar 500-700 peserta yang ikut. Tes IPUnya suwusah. Pikiranku nggak di
tesnya, malah ke sebuah tugas kepanitiaan yang harus terselesaikan esok
harinya. Habis tes langsung lupa
sama program ini.
Beberapa minggu kemudian ada teman yang nanya via line
“Gimana AFS-mu?”
Lah aku aja nggak tahu hasilnya udah keluar. Sangat
hopeless. Pas ngecek, ada nomor 0293 di antara 180 nomor yang lolos. Yasuda I’m
back on track. Dijalani saja.
Cari surat rekomendasi last-minute banget. Baru kelar J-12
seleksi tahap 2.
Tahap 2
Tes wawancara. Still no preparation, like at all. Masuk
ruangan suantai. Ditanya-tanyain juri juga jawab seadanya. Ada sedikit hawa
pressing dari juri, tapi idk. I was so laid back and chillin, but still the one
dominated the talk in the room. Seriously thinking bisa sesantai itu karena
udah banyak kali ikut oprec (dan banyak kali ditolak juga).
Went home with no burden at all.
Satu minggu kemudian SKDJ sudah diupdate ke twitter. Ada
nomorku bersama 55 nomor lainnya.
Tahap 3
Jam 6 sudah di Indrapura. Salah dresscode (malu).
Outbond, case solving+presentation session, pressing,
reflection, parents session, and else and else.
Selesai kira-kira jam 18.30.
Made some friends.
Truth is, I wouldn’t hurt, push, or get in anyone’s way just
to get pass this. I don’t intend to be a different person, lost my views on life, be
heartless, just to meet their quota, be a person they deemed fit for this
program. Allah will make the cut. If it’s meant to be, it will be. The
important thing is I’ve run this far – on my own term. I’ve had amazing
experience, I met many people with different points of view (some of which are
totally unique), I am able to take lessons from my journey. Thankyou for giving
me the chance to be a part of this community. I’m grateful for itJ
Friday, June 12, 2015
Satu Dua Tiga
Dia memang temanku. Selama ini kami selalu ada dalam
lingkaran yang sama, membicarakan hal yang sama, tertawa pada hal yang sama.
Tapi kurasa hubungan kami secara personal tidak dekat. Tahulah, dalam sebuah
perkumpulan pasti ada seseorang yang lebih dekat dengan kita, ada pula yang
paling jauh. Dia merupakan yang paling jauh dari terdekatku. Kalau jalan 2-2,
kami tidak pernah pada langkah yang sama. Kami hampir tidak memiliki kesaamaan,
jadi kadang bingung juga apa yang harus dibicarakan. Kupikir ini hubungan
terdekat yang bisa terjalin di antara kami.
Oh boy am I wrong.
Ternyata masih banyak cerita yang belum kudengar tentang
dirinya. Ternyata selama ini masih salah menilai. Ternyata kami punya cukup
banyak kesamaan.
Senang rasanya bisa akrab dengan ketiganya without holding
anything back anymore.
Terimakasih ya dua harinya. Berniat bolos tapi untung nggak
jadi. Super worth it. Deep talknya mengena. Feels like I have found another missing
piece of my life<3 more than anything, it’s a friend.
...And one of the happiest moments of my life
Was a picture of four of us hugging at the end of the day
That hug, right there, was a moment I want to freeze forever
Because I know things will change
You will change
I will change
We - sooner or later - will grow up in different directions
We will walk on different paths
Just like everybody else.
Was a picture of four of us hugging at the end of the day
That hug, right there, was a moment I want to freeze forever
Because I know things will change
You will change
I will change
We - sooner or later - will grow up in different directions
We will walk on different paths
Just like everybody else.
Monday, June 8, 2015
Behind The Scene
Seorang aktor utama adalah seorang bintang, sebuah aset, dan
merupakan spotlight utama dari sebuah pertunjukan. Aktor adalah penggerak dan
merupakan center dari film yang dibawanya – begitu di mata sebagian besar
orang. Mereka adalah idola yang dipuji-puji dan dihafalkan biodatanya oleh
masyarakat, sehingga nama mereka diingat sejarah dalam waktu yang lama.
Tetapi tahukah kita bahwa di balik mereka yang berkemampuan
mahir dalam berakting, yang selama ini kita bangga-banggakan, terdapat
unsur-unsur hebat lainnya yang membawa film tersebut? Mereka-mereka yang
namanya hanya muncul di awal film dan muncul lagi di saat roll credit disertai
soundtrack penutup film. Mereka yang sama sekali tidak mendapat perhatian kita.
Producer, casting, figuran, tata panggung, kameramen, dan masih banyak lagi.
Sebuah kesatuan memiliki komposisi dengan takarannya
sendiri. Apabila kesatuan ini dapat berjalan, dapat kita simpulkan semua
bagiannya juga berjalan. Sebuah motor memang sangat penting, tetapi bagian lain
juga sama pentingnya.
Kesalahan dari masyarakat bukanlah karena mereka
mengapresiasi seorang motor secara berlebihan(overrated), toh memang pekerjaan
sebuah motor itu keras dan sangat berarti untuk kesatuan. Semua apresiasi yang
mereka dapat juga merupakan buah dari kerja keras mereka yang layak mereka
dapatkan. Kesalahan masyarakat terletak pada kekurangterbukaan pikiran mereka
bahwa selain orang-orang yang berada di bawah sorotan spotlight, terdapat orang
lain yang mengangkat mereka dan mensukseskan pertunjukan. Boleh jadi mereka
hanya sebatas peran pembantu, tetapi usaha yang mereka berikan siapa yang tahu.
Mereka sama-sama berjuang dengan keras, sama-sama meneteskan keringat dengan
jumlah yang sama, tetapi tidak mendapat setengah dari bayaran dan apresiasi para
bintang. Tidak apa, karena mereka ikhlas melakukan semuanya.
Tidak apa nama mereka hanya terpampang di layar selama tiga
detik.
Tidak apa bayaran dan ketenaran mereka tidak sebanding
dengan usaha yang dikeluarkan.
Tidak apa tidak mendapatkan apresiasi yang layak mereka
dapatkan.
Tidak apa, rezeki orang memang berbeda-beda.
Tetapi tolong jangan katakan
“Buat apa kamu di sini, ragamu hadir di sini, kalau tidak
membantu mereka?”
Karena jujur saja rasanya sakit, mengerti bahwa kita sudah
berusaha sangat keras – tanpa mengharap nama – tetapi masih saja tidak
dipercaya oleh orang lain, tidak mendapatkan sedikitpun recognition atas perjuangan kita. Perjuangan yang mungkin saja merupakan sebuah kunci dari
keberhasilan bersama yang tidak terlihat orang lain.
Pernahkah kamu jadi berpikir, bagaimana jika posisi
berjuangku tidak di sini, tapi di sana? Di tempat yang lebih terlihat dan mudah
diraih orang banyak. Di mana kamu tidak akan merasa selelah ini, tapi mendapat
pandangan yang lebih baik, mendapatkan rumah yang lebih layak. Mendapat
sebersit perasaan bangga dan tidak merasa serendah penghambat.
Cause honestly – is there anything worse than giving your all and treated as if you give none just because your work is not the work they wish to see?
Cause honestly – is there anything worse than giving your all and treated as if you give none just because your work is not the work they wish to see?
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi memang siapa yang menentukan ranah juangku kalau bukan... aku sendiri?
Jadi salah siapa?
.
Tapi memang siapa yang menentukan ranah juangku kalau bukan... aku sendiri?
Jadi salah siapa?
Subscribe to:
Comments (Atom)



