Monday, September 7, 2009

Selamat jalan Rega

Umur kita sebaya, 10 tahun. Kamu ceria dan suka tertawa. Suka bersepeda depan rumahku. Kamu pintar, aku dengar selalu ranking bagus di kelas. Seminggu yang lalu kamu sakit, tapi tetap tidak mau absen tarawih. Tidak pernah bolos tadarus, dan selalu mencoba berpuasa. Ketika sakitmu makin parah dan harus dirawat di rumah sakit kamu masih memikirkan ulangan, tarawih dan mengaji. Ketika trombosit di tubuhmu makin menipis kamu masih mencoba tersenyum. 

Begitu cepat, kata dokter bahkan tidak melalui fase koma. Kamu meninggalkan kami semua dengan tenang... Di bulan yang suci... Di malam turunnya kitab suci... Dengan diiringi tangisan guru, orang tua dan teman-temanmu.... Juga doa semua orang yang menyayangimu... 

Selamat jalan dan beristirahat dengan tenang, sahabatk Rega... Surabaya 18 Ramadhan 1430 H

Monday, August 17, 2009

Derita Meraih Merah Putih

Ratapan menerpa gerbang kalbuku
Aroma anyir darah mengganggu lelapku
Genggaman bambu runcing di tanganku
Peluh terpompa mengucur di dahiku
Perut yang meronta akibat laparku
Di batas sunyinya nalar pikiranku

Daging kakiku tercerai berai
Tumbuhan liar merambatinya
Sementara nanah dan darah mengalirinya

Wajah-wajah berdarah terkapar di sekelilingku
Usah kau tanyakan lagi asa tersisa
Aku tahu aku takkan bisa bertahan
Desingan timah mungil panas mengoyak raga anak bangsa

Detik-detik penuh dengan ancaman
Ketika raga di ujung darah penghabisan
Mata terluka yang selalu mengintai
Raga yang mengempis akibat kucuran darah bagai badai

Tak kenal senjata tak kenal mati
Aku rela mati karena merah putih dan persada tercinta

Thursday, August 13, 2009

Meraih Malam Seribu Bulan

Di sebuah rumah kecil dan sederhana tinggallah satu keluarga pas-pasan yang hidup berbahagia. Walaupun kekurangan, mereka tetap hidup berbahagia di dalamnya. Mereka sebuah keluarga yang saling mengajari kebaikan dan ajaran Allah SWT. Mereka juga saling mengingatkan satu sama lain. Di dalam rumah itu tinggal sepasang suami istri dan 3 orang anak. Pak Bahri, pemimpin dari keluarga mereka bekerja sebagai penjual es keliling, sedangkan Bu Sahri menjadi buruh cuci di beberapa tetangga mereka. Dan dua anak mereka, Ali dan Hasan sangat bertanggung jawab. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan hidup sendiri.
Mendekati bulan Ramadhan, Bu Sahri mengatakan, “Kalian berdua pergilah ke masjid untuk mendengarkan khutbah Ramadhan agar kalian mengetahui banyak tentang apa yang dimaksud bulan ramadhan. Ibu dan ayah di rumah saja karena masih ada urusan. Ini sarung dan pecinya… Perhatikan baik- baik ya…” Kata Bu Sahri sembari memberikan peci dan sarung milik mereka. Mereka segera pergi dan melakukan apa yang dikatakan oleh ibunya.
“Wassalamualaikum Wr. Wb” Pembicara khutbah menutup khutbahnya. Ali dan Hasan antusias sekali dengan apa yang disampaikan oleh si pembicara. Hal yang disampaikan tidak lain adalah tentang malam Lailatul Qadar. Mendengar hal itu, tumbuhlah niat mereka untuk mencari dan mendapatkan pahala yang lebih baik dari seribu bulan itu. Meskipun mereka masih sangat kecil, tapi tekad mereka sudah menggebu.
Di rumah, mereka menceritakan pada ibu mereka. Meskipun ceritanya membingungkan dan tidak runtut, Bu Sahri tetap mendengarkan dengan sabar. Ia pun berniat akan menuntun anak-anaknya selama menjelang bulan Ramadhan ini. Dibimbingnya Hasan dan Ali dengan sabar, meskipun sesekali Hasan atau Ali berlari ke sana kemari, meloncat-loncat, bahkan mempermainkan baju Bu Sahri. Ia sadar bahwa Ali dan Hasan masih kecil, yang membutuhkan hiburan serta kasih sayang. Meskipun seberapapun tanggung jawab seorang anak, tetap saja masih membutuhkan hiburan dan kasih sayang.
Dengan kesabaran dan ketelatenan, akhirnya sampai juga Bulan Ramadhan dan Hasan juga Ali  sudah sangat paham dengan hal- hal di Bulan Ramadhan yang bermanfaat. Dimulai pada hari pertama saja, Hasan dan Ali sudah seperti puasa remaja dalam 10 hari pertama. Ditambah lagi kegiatan yang sangat mendukung, seperti shalat sunnah, tadarus beberapa lembar, juga menahan hawa nafsu. Orangtua mereka sangat bangga pada dua anak mereka yang penurut.
Hari hari terlewat dengan berbagai kenangan baik di keluarga ini. Hasan dan Ali dengan mati- matian menahan kantuk saat sahur pagi, menahan lapar dan haus di saat tetangga mereka memakan nasi goreng dan minum es, menolak main dengan temannya karena akan tadarus dan masih banyak lagi kenangan berharga lainnya.
Hari- hari terlewat, hingga menjelang Idul Fitri, Pak Bahri menyempatkan diri bermalam di masjid untuk I’tikaf. Ali dan Hasan ingin sekali ikut. Berkali kali Bu Sahri mengatakan kalau Ali dan Hasan masih terlalu kecil dan belum kuat. Tetapi, mereka sudah merasa cukup kuat dan terus mendesak Bu Sahri. Karena menyerah, akhirnya berangkatlah ayah dan anak- anaknya ke masjid, sedangkan Bu Sahri menjaga rumah.
Ali dan Hasan memang mati- matian terjaga dan beristighfar kepada Allah, tapi mereka justru menikmatinya. Mereka merasa 1000 malaikat mendoakan mereka. Mereka juga merasakan ketenangan yang amat sangat seakan mereka baru lahir dan masih bersih dari dosa. Mereka makin bersemangat menjalani I’tikaf. Mereka memang merasa lelah, tapi tekad untuk mencari malam Lailatul Qadar masih bergelayut di benak mereka. Mereka merasa baru merasakan apa yang dimaksud dengan Ramadhan dan kebersihan lahir dan batin. Keinginan untuk ber I’tikaf makin bergejolak di pikiran mereka.
Beberapa hari setelah I’tikaf, mereka pulang ke rumah untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak tahu apakah mendapat malam Lailatul Qadar, mereka telah banyak mengambil hikmah dari pengalaman Ramadhan ini. Mereka memiliki sejuta kenangan manis pada Ramadhan ini. Mereka merasa bahagia dan bersih rohani serta jasmani. Tinggal sebentar lagi mereka menyudahi Ramadhan dan menggantinya dengan Idul Fitri.
Di rumah itu, setelah melaksanakan Shalat Ied berjamaah…
Tawa memenuhi selasar rumah mungil itu. Meskipun tidak ada pesta meriah dengan hiasan dan berbagai makanan, mereka tetap bahagia dan tidak akan pernah merasa menderita, apalagi setelah bulan Ramadhan seperti ini…